TPL_PIDII_SKIP_TO_CONTENT
PIDII NATIONAL PORTAL

Jelajahi Potensi Indonesia

Satu Peta, Semua Informasi, Seluruh Peluang

β™œ
38ProvinsiSeluruh Indonesia
πŸ—Ί
514Kabupaten/KotaSeluruh Indonesia
β—‡
25+Kategori DataPotensi & Sektor
β†—
1000+Data TerhubungSumber Terintegrasi
Kepala DPMPTSP Sulteng Moh. Rifani Pakamundi. ANTARA/Fauzi Lamboka
Kepala DPMPTSP Sulteng Moh. Rifani Pakamundi. ANTARA/Fauzi Lamboka

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah mencatat lonjakan investasi yang signifikan pada sektor Listrik, Gas, dan Air hingga 414,8 persen pada Semester I 2026.

"Realisasi sektor kelistrikan naik tajam menjadi Rp4,43 triliun dari periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp0,86 triliun. Sekitar 97 persen dari investasi kelistrikan ini berada di Kabupaten Morowali untuk menopang infrastruktur kawasan industri," kata Kepala DPMPTSP Sulawesi Tengah Moh. Rifani Pakamundi di Palu, Minggu.

Dia menjelaskan bahwa penguatan sektor infrastruktur energi ini menjadi mesin pertumbuhan baru di tengah stagnasi riil sektor utama. Sektor Industri Logam Dasar masih memegang porsi terbesar dengan nilai Rp51,45 triliun atau 74,90 persen dari total investasi.

Di sisi lain, sektor pertambangan mengalami kontraksi hingga 53,4 persen, dengan penurunan nilai investasi sebesar Rp3,21 triliun dari Rp6,01 triliun pada Semester I 2025 menjadi Rp2,80 triliun pada periode yang sama tahun ini. "Lonjakan investasi di sektor kelistrikan berhasil menutupi penurunan signifikan dari sektor pertambangan hulu," ungkapnya.

Ia menjelaskan, dari sisi sumber modal Penanaman Modal Asing (PMA), tiga negara utama menguasai 98,56 persen investasi asing di Sulawesi Tengah. Hongkong menempati posisi puncak dengan investasi sebesar Rp26,99 triliun atau 41,70 persen, disusul Singapura sebesar Rp19,18 triliun atau 29,64 persen, dan Republik Rakyat Tiongkok sebesar Rp17,62 triliun atau 27,23 persen.

Pergeseran porsi asal modal yang menunjukkan kenaikan investasi dari Hong Kong tidak mengubah peta asal permodalan secara keseluruhan. "Hongkong dan RRT jika digabungkan tetap menyumbang 68,93 persen dari total PMA. Ini mengindikasikan struktur asal modal tidak berubah, hanya alur administrasinya yang beralih," jelasnya.

Pertumbuhan industri kelistrikan di Morowali sejalan dengan langkah agresif pelaku industri nikel seperti PT Vale Indonesia Tbk, yang mendatangkan autoclave berkarbon rendah serta ekspansi proyek energi hijau di kawasan industri guna memenuhi tuntutan rantai pasok global.