Istanbul (ANTARA) - Upaya mengakhiri perpecahan politik Palestina kembali bergulir. Faksi Hamas dan Fatah dilaporkan akan bertemu di Kairo, Mesir, pada pekan depan untuk melanjutkan dialog nasional sekaligus membahas masa depan perjuangan Palestina menuju kemerdekaan.
Seorang sumber mengatakan kepada Anadolu, Jumat (21/8), bahwa delegasi kedua faksi tengah mempersiapkan pertemuan yang kemungkinan digelar pada Senin (24/8). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian komunikasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan guna membuka kembali jalur dialog antara dua kekuatan politik utama Palestina itu.
Pertemuan tersebut berlangsung setelah Ketua Biro Politik Hamas Khalil Al-Hayya bersama delegasinya melakukan kunjungan ke Kairo. Dalam kunjungan itu, delegasi Hamas bertemu dengan pejabat Mesir serta membahas sejumlah isu nasional bersama perwakilan faksi-faksi politik Palestina.
Dialog kali ini dinilai memiliki arti penting karena berlangsung di tengah situasi politik Palestina yang semakin kompleks, terutama menjelang rencana pemilihan legislatif pada November 2026.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas sebelumnya menerbitkan dekret pada 9 Juli yang menetapkan 28 November 2026 sebagai tanggal pelaksanaan pemilu di Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Pemilu tersebut akan menjadi pemilihan pertama dalam dua dekade terakhir.
Komisi Pemilihan Pusat Palestina juga telah memulai proses pendaftaran pemilih dan pembaruan data sejak 15 Agustus. Hamas telah menyatakan keinginannya untuk berpartisipasi melalui sebuah koalisi nasional.
Berulang Kali Direncanakan, Berulang Kali Tertunda
Menurut sumber tersebut, sejak Israel melancarkan agresi ke Gaza pada Oktober 2023, Hamas telah dua kali mengundang Fatah untuk melakukan pertemuan guna membahas langkah politik dan nasional dalam menghadapi krisis yang terus berlangsung.
Namun, kedua pertemuan yang direncanakan itu tidak pernah terlaksana. Sumber tidak menjelaskan alasan di balik pembatalan tersebut.
Meski demikian, komunikasi antara para petinggi kedua faksi tetap berjalan. Bahkan, satu sesi dialog telah digelar, meski belum berhasil menghasilkan pertemuan langsung antara kedua kelompok.
Kini, Hamas dan Fatah disebut telah sepakat untuk kembali duduk bersama di Kairo.
Perpecahan antara Fatah dan Hamas yang telah berlangsung sejak 2007 hingga kini masih menjadi salah satu persoalan terbesar dalam politik Palestina. Berbagai upaya rekonsiliasi yang dimediasi negara-negara Arab maupun pihak internasional sejauh ini belum mampu mengakhiri perselisihan secara permanen.
Kairo Kembali Jadi Titik Temu
Kairo selama bertahun-tahun memainkan peran penting sebagai mediator dalam dialog internal Palestina, khususnya antara Hamas dan Fatah. Meski sejumlah kesepakatan pernah dicapai, persatuan politik Palestina belum sepenuhnya terwujud.
Pada Juli 2022, Mahmoud Abbas sempat bertemu dengan pemimpin politik Hamas saat itu, Ismail Haniyeh, di Aljir, Aljazair. Pertemuan tersebut berlangsung melalui mediasi Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune.
Tiga bulan kemudian, pada Oktober 2022, sejumlah faksi Palestina, termasuk Fatah dan Hamas, menandatangani perjanjian rekonsiliasi di Aljir. Kesepakatan tersebut antara lain memuat komitmen untuk menggelar pemilihan presiden dan legislatif. Namun, rencana tersebut akhirnya tidak terealisasi.
Upaya berikutnya dilakukan pada Juli 2024 melalui Deklarasi Beijing, yang memuat langkah-langkah untuk mengakhiri perpecahan politik dan membangun persatuan nasional Palestina. Namun, deklarasi tersebut juga belum mampu mengakhiri rivalitas kedua faksi.
Setelah Mahmoud Abbas mengumumkan jadwal pemilihan legislatif, Ketua Dewan Nasional Palestina Rawhi Fattouh disebut kembali menghubungi Hamas.
Kedua faksi sebenarnya sempat merencanakan pertemuan pada Juli lalu. Namun, agenda tersebut ditunda hingga waktu yang belum ditentukan tanpa penjelasan mengenai penyebabnya.
Kini, Kairo kembali menjadi tempat yang dipilih untuk mempertemukan kedua kubu.
Menjelang Pemilu, Masa Depan Persatuan Dipertaruhkan
Menurut sumber, pertemuan mendatang bukan sekadar upaya melanjutkan komunikasi, tetapi juga menjadi momentum untuk menguji apakah tekanan dan krisis akibat perang di Gaza dapat mendorong lahirnya babak baru dalam hubungan politik Palestina.
Pertemuan tersebut dinilai penting untuk melihat kemungkinan mengubah tekanan akibat agresi Israel di Gaza menjadi momentum bagi proses politik internal Palestina yang baru.
Jika dialog berjalan positif, pertemuan Hamas dan Fatah di Kairo berpotensi membuka jalan bagi penataan kembali hubungan kedua faksi sekaligus memperkuat persiapan menghadapi pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Namun, setelah hampir dua dekade perpecahan dan serangkaian kesepakatan rekonsiliasi yang belum membuahkan hasil, tantangan terbesar bagi kedua faksi tetap sama: mengubah kesepakatan politik menjadi persatuan nyata di lapangan.
Sumber: Anadolu