Investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia mencapai 10,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp179,2 triliun hingga 31 Agustus 2026. Menurut data sementara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas),
capaian ini berlangsung di tengah peningkatan investasi sejak pandemi, sementara pengembangan proyek menjadi faktor penting untuk mendukung tambahan produksi dan ketahanan energi nasional, dilansir dari Suara. SKK Migas mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai 14,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp245,5 triliun.
Angka tersebut meningkat 4 persen dibandingkan realisasi 2024 sebesar 14,4 miliar dolar AS. Data SKK Migas menunjukkan investasi hulu migas mencapai 10,5 miliar dolar AS pada 2020, kemudian naik menjadi 11 miliar dolar AS pada 2021. Nilainya kembali meningkat menjadi 12,1 miliar dolar AS pada 2022 dan 13,3 miliar dolar AS pada 2023 sebelum mencapai 14,9 miliar dolar AS pada 2025.
SKK Migas menyebut angka investasi hingga 31 Agustus 2026 masih bersifat sementara atau belum diaudit. Realisasi tersebut perlu diikuti kelancaran pelaksanaan proyek agar investasi dapat mendukung peningkatan produksi.
Salah satu proyek utama yang menjadi perhatian adalah North Hub di lepas pantai Kalimantan Timur. Proyek gas tersebut memiliki nilai investasi 11,8 miliar dolar AS dan ditargetkan mulai berproduksi pada 2028. Konstruksi fasilitas produksi terapung North Hub dimulai pada Juli 2026, setelah Eni mengambil keputusan investasi final untuk proyek North Hub dan South Hub pada Maret 2026. Pengembangan tersebut berpotensi memperkuat pasokan gas domestik dan gas alam cair atau LNG.
Proyek ini juga membuka peluang usaha bagi industri fabrikasi, penyedia jasa, serta pemasok dalam negeri yang terlibat dalam rantai pasok migas. Namun, kesiapan fasilitas dan kelancaran pembangunan menjadi faktor penting untuk memenuhi target produksi pada 2028. Selain proyek tersebut, aktivitas investasi juga terlihat dari pengumuman enam pemenang lelang wilayah kerja pada September 2026. Menurut data yang diberitakan, total komitmen pasti dari lelang itu mencapai sekitar 141,5 juta dolar AS.
Dalam perencanaan jangka panjang, SKK Migas menargetkan investasi hulu migas mencapai sekitar 26 miliar dolar AS pada 2030. Pencapaian sasaran tersebut bergantung pada kesiapan proyek, keputusan investor, dan kelancaran kegiatan operasional. Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai perbaikan iklim investasi ikut mendukung perkembangan penanaman modal di sektor hulu migas.
Ia menyoroti pembenahan pelaksanaan kegiatan, fleksibilitas pilihan kontrak, serta insentif dan pembagian hasil yang lebih menarik sebagai bagian dari upaya mempertahankan investasi. Pri Agung menyampaikan bahwa tren investasi menunjukkan peningkatan dan pelaku usaha yang telah beroperasi masih melanjutkan penanaman modalnya di Indonesia.
"Jadi berbagai upaya sudah dilakukan, trennya naik. Itu artinya kemudian yang beroperasi di sini itu memang masih melanjutkan investasinya di Indonesia," ujar Pri Agung, seperti dikutip Suara pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Dari sisi iklim investasi, Indonesia menempati peringkat keempat dari 15 negara dalam kategori Activity & Success pada 2026. Penilaian tersebut relatif setara dengan capaian 2025 dan didukung, antara lain, oleh sejumlah penemuan besar sepanjang 2026. Meski nilai investasi meningkat, realisasi penanaman modal belum secara otomatis menunjukkan tambahan produksi yang sudah terealisasi. Perkembangan proyek dan pencapaian jadwal produksi menjadi indikator penting untuk menilai hasil investasi sektor hulu migas.